Tribun Maluku Tenggara Raya.Com,-KEPULAUAN TANIMBAR, MALUKU — Gelombang pembangunan dan investasi di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, khususnya dengan semakin dekatnya realisasi Proyek Strategis Nasional (PSN) Gas Abadi Blok Masela, memunculkan kebutuhan mendesak terhadap penguatan sumber daya manusia (SDM) lokal.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah momentum tersebut, warga Tanimbar yang memiliki kualifikasi pendidikan, keahlian, pengalaman profesional, serta pengetahuan di berbagai bidang sektor strategis mulai didorong untuk mempertimbangkan kembali pulang ke tanah leluhur.
Ajakan itu bukan semata-mata berkaitan dengan kebanggaan sebagai putra daerah. Lebih jauh, kepulangan SDM Tanimbar diharapkan menjadi bagian dari strategi pembangunan daerah agar masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton dari arus investasi dan eksploitasi sumber daya alam, tetapi menjadi pelaku utama yang ikut merancang, mengelola, mengawasi, sekaligus menikmati manfaat pembangunan.
Momentum tersebut semakin relevan setelah berbagai pihak mulai membicarakan kesiapan tenaga kerja lokal menghadapi beroperasinya Blok Masela.
Pada Juni 2026, Yayasan Tanimbar Humaniora Connection (YTHC) bersama DPP Patria PMKRI bahkan telah melakukan audiensi dengan Wakil Menteri Ketenagakerjaan untuk mendorong percepatan penyiapan SDM lokal Tanimbar menghadapi PSN Blok Masela.
Dalam audiensi tersebut, isu utama yang dibahas adalah bagaimana tenaga kerja lokal dapat mengambil peran strategis dalam proyek industri migas berskala besar sehingga masyarakat Tanimbar tidak sekadar menjadi penonton pembangunan.
Bukan Sekadar Pulang, tetapi Membawa Keahlian
Kepulangan warga Tanimbar berpendidikan dan berpengalaman dari berbagai daerah maupun luar negeri perlu ditempatkan dalam kerangka yang lebih besar.
Mereka dapat menjadi tenaga profesional, pengusaha, akademisi, konsultan, peneliti, teknokrat, tenaga kesehatan, ahli lingkungan, ahli hukum, ahli pertambangan dan energi, ahli teknologi informasi, pelaku ekonomi kreatif, hingga penggerak sektor pertanian, perikanan, kelautan dan pariwisata.
Dengan demikian, slogan “pulang membangun Tanimbar” tidak berhenti sebagai seruan emosional, tetapi berubah menjadi gerakan pembangunan berbasis kompetensi.
Tanimbar membutuhkan generasi yang memahami dunia modern sekaligus memiliki akar kuat terhadap adat, budaya dan tanah leluhurnya.
Kepulangan SDM unggul juga dapat menjadi jembatan antara pengetahuan global dengan kebutuhan pembangunan lokal.
Para profesional Tanimbar yang selama ini bekerja di Jakarta, Surabaya, Makassar, Ambon, Papua, bahkan di luar negeri, memiliki kesempatan untuk membawa pulang pengalaman, jaringan, teknologi, modal pengetahuan dan budaya kerja profesional untuk diterapkan di daerah.
Sumber Daya Alam Harus Melahirkan Nilai Tambah
Kekayaan alam Tanimbar tidak seharusnya hanya dipandang sebagai komoditas yang diambil dari daerah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi nasional.
Sumber daya alam harus menjadi pintu masuk bagi terciptanya nilai tambah, transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM, pertumbuhan UMKM, lahirnya perusahaan lokal dan terbukanya lapangan pekerjaan yang berkelanjutan.
Dalam konteks Blok Masela, Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa sebelumnya menegaskan bahwa proyek tersebut harus mampu membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas SDM dan menghadirkan pemerataan pembangunan bagi masyarakat daerah penghasil.
Ia juga menyampaikan harapan agar masyarakat Tanimbar menjadi “tuan rumah di negeri sendiri” dan investasi besar seperti Blok Masela menghadirkan kesejahteraan nyata bagi masyarakat Duan Lolat.
Pernyataan tersebut memberikan pesan penting bahwa keberadaan investasi berskala besar harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas masyarakat lokal.
Lukas Uwuratuw: Blok Masela Harus Menjadi Momentum Sejarah
Sesepuh Tanimbar sekaligus mantan Wakil Bupati Maluku Tenggara Barat periode 2001–2006, Lukas Uwuratuw, melihat Blok Masela sebagai momentum penting bagi masa depan Tanimbar.
Uwuratuw menyebut Blok Masela bukan sekadar proyek migas berskala nasional, melainkan momentum bersejarah yang akan menentukan arah masa depan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Ia juga melihat proyek tersebut sebagai pintu masuk bagi lahirnya berbagai peluang baru, peningkatan pertumbuhan ekonomi, pembukaan lapangan kerja dan berkembangnya usaha masyarakat.
Pandangan tersebut mempertegas bahwa pembangunan sumber daya alam harus dibarengi pembangunan manusia.
Sebab, daerah yang memiliki kekayaan alam tetapi tidak memiliki SDM yang siap mengelolanya berpotensi hanya menjadi lokasi eksploitasi, sementara nilai ekonomi terbesar dinikmati oleh pihak dari luar daerah.
Cendekiawan Tanimbar: Budaya Harus Menjadi Modal Sosial
Dalam kehidupan masyarakat Tanimbar, pembangunan tidak dapat dilepaskan dari filosofi Duan Lolat.
Sejumlah kajian akademik mengenai masyarakat Tanimbar menunjukkan bahwa Duan Lolat memiliki fungsi penting dalam membangun hubungan sosial, saling melindungi, mendukung dan memperkuat kehidupan masyarakat.
Karena itu, semangat pembangunan modern seharusnya tidak menghilangkan identitas Tanimbar.
Sebaliknya, nilai-nilai kebersamaan, tanggung jawab dan hubungan timbal balik yang terkandung dalam budaya Duan Lolat dapat diterjemahkan menjadi modal sosial untuk membangun daerah.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Aloysius P. Rumwarin, dalam pembinaan ASN pada Januari 2025 juga menekankan bahwa nilai Duan Lolat dapat diterapkan dalam kehidupan birokrasi, terutama dalam membangun komunikasi, koordinasi dan tanggung jawab bersama.
Artinya, filosofi adat tidak harus ditempatkan hanya sebagai simbol kebudayaan, tetapi dapat menjadi nilai dalam tata kelola pembangunan.
Paradigma Baru: Dari Penonton Menjadi Pemain
Tanimbar membutuhkan perubahan paradigma.
Masyarakat tidak boleh hanya menunggu lowongan pekerjaan dari perusahaan besar. Pemerintah daerah, dunia pendidikan, dunia usaha dan masyarakat harus membangun ekosistem yang memungkinkan lahirnya lapangan pekerjaan baru dari potensi daerah sendiri.
Putra-putri Tanimbar yang memiliki kompetensi di bidang energi, teknik, konstruksi, hukum, ekonomi, keuangan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, teknologi informasi, perikanan, pertanian, pariwisata dan bidang lainnya dapat mengambil peran.
Mereka tidak harus semuanya menjadi pegawai perusahaan.
Sebagian dapat menjadi pengusaha lokal, membangun perusahaan jasa, memasok kebutuhan industri, mengembangkan UMKM, membangun lembaga pendidikan dan pelatihan, melakukan riset, atau menciptakan inovasi berbasis potensi lokal.
Paradigma inilah yang perlu dibangun:
Dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.
Dari konsumen menjadi produsen.
Dari penonton investasi menjadi pelaku investasi.
Dari daerah penghasil menjadi daerah yang mampu menciptakan nilai tambah.
Pemerintah Perlu Membuka Ruang Bagi SDM Tanimbar
Seruan agar putra-putri Tanimbar pulang juga harus diikuti kebijakan konkret.
Pemerintah daerah perlu membangun basis data SDM Tanimbar berdasarkan bidang keahlian dan pengalaman profesional. Data tersebut dapat menjadi Talent Pool Tanimbar, yang menghubungkan tenaga profesional dengan kebutuhan pembangunan daerah.
Pemerintah juga dapat membangun forum komunikasi antara diaspora Tanimbar, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha dan investor.
Langkah tersebut penting agar SDM yang pulang tidak mengalami persoalan klasik: memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki ruang untuk berkontribusi.
Jika diperlukan, pemerintah daerah dapat menyiapkan program khusus berupa insentif, kemudahan investasi, ruang inovasi, pelatihan, sertifikasi kompetensi, inkubator bisnis dan kemitraan dengan perusahaan.
Dengan cara tersebut, kepulangan SDM tidak sekadar menjadi gerakan moral, tetapi menjadi bagian dari desain pembangunan daerah.
Jangan Sampai Kekayaan Alam Berbanding Terbalik dengan Kesejahteraan Rakyat
Pertanyaan terbesar bagi Tanimbar bukan hanya seberapa besar investasi yang masuk.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Berapa banyak orang Tanimbar yang menjadi tenaga profesional?
Berapa banyak perusahaan lokal yang tumbuh?
Berapa banyak anak muda Tanimbar yang menjadi pengusaha?
Berapa banyak UMKM yang naik kelas?
Berapa banyak teknologi dan pengetahuan yang ditransfer kepada masyarakat?
Dan yang paling penting:
Seberapa besar kekayaan alam Tanimbar mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Tanimbar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus menjadi ukuran keberhasilan pembangunan.
Seruan untuk Pulang dan Membangun
Kepada warga Tanimbar yang telah menempuh pendidikan tinggi, memperoleh pengalaman profesional, membangun jaringan dan memiliki keahlian di berbagai bidang, momentum pembangunan hari ini dapat menjadi kesempatan untuk kembali melihat tanah leluhur dari perspektif yang berbeda.
Bukan sekadar pulang untuk mencari pekerjaan.
Tetapi pulang untuk menciptakan pekerjaan.
Bukan hanya menunggu pemerintah.
Tetapi ikut memikirkan solusi.
Bukan hanya berbicara tentang kekayaan alam.
Tetapi ikut memastikan kekayaan tersebut menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Tanimbar membutuhkan orang-orang yang memiliki ilmu, integritas dan keberanian untuk mengambil bagian.
Sebab pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya alam.
Sumber daya alam tanpa sumber daya manusia yang unggul hanya akan melahirkan ketergantungan. Sebaliknya, sumber daya alam yang dikelola oleh manusia yang kompeten, berintegritas dan berpihak pada kepentingan masyarakat dapat menjadi fondasi lahirnya Tanimbar yang mandiri.
Karena itu, pesan yang perlu dibangun bukan sekadar orang Tanimbar, pulanglah Melainkan Pulanglah dengan ilmu, pengalaman, jaringan dan gagasan. Mari kelola tanah leluhur dengan kemampuan sendiri, ciptakan lapangan kerja, bangun ekonomi lokal, dan pastikan kekayaan Tanimbar memberi masa depan bagi generasi Tanimbar.”»
Pada akhirnya, filosofi Duan Lolat dapat diterjemahkan dalam semangat pembangunan modern: mereka yang memiliki kemampuan memiliki tanggung jawab untuk memberi kembali kepada tanah dan masyarakat yang membesarkan mereka.
Tanimbar tidak hanya membutuhkan investasi. Tanimbar membutuhkan manusia Tanimbar yang siap mengelola investasi tersebut dengan pengetahuan, profesionalisme, integritas dan keberanian.
(Randy Fenan)














